Rabu, April 20, 2011

Mengenali Kapan Anak Harus mendapat Pertolongan Tenaga Kesehatan

Mengenali Kapan Anak Harus mendapat Pertolongan Tenaga Kesehatan

(Ditulis berdasarkan informasi Tanda Bahaya Anak Sakit Program MTBS dan MTBS-BM/IMCI dan C-IMCI))



Semalam saya dikabari salah satu teman, kalau anaknya di rawat di Rumah Sakit (RS). Memang sejak siang dia sudah dikabari istrinya kalau anaknya panas, dia langsung meminta anaknya untuk segera dibawa ke RS.

Beberapa wakttu lalu, seorang teman yang bekerja di salah satu kabupaten di Indonesia Barat menelpon dan bercerita tentang seorang bayi yang hampir saja tidak tertolong karena tidak segera dibawa ke RS, padahal sudah berobat ke petugas kesehatan di desanya. Selidik punya selidik ternyata petugas kesehatan tidak menganggab anak tersebut dalam tanda bahaya, karena saat di raba badannya tidak menunjukkan panas sebagaimana pengetahuan sang petugas.



Dibalik sedikit kisah ini sebenarnya di negeri ini tersimpan begitu banyak kisah lain, dimana anak-anak (terutama) yang meninggal karena tidak mendapat pertolongan tenaga kesehatan. Pada umumnya anak tersebut menderita penyakit-penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dan mudah diobati, seperti; Diare, Pnemonia, Mal Nutrisi, Malaria dan Campak (5 Penyakit pembunuh Utama anak-anak di Negara berkembang).

Namun tidak sedikit juga anak-anak tersebut yang tidak tertolong jiwanya, padahal sudah dibawa kepetugas kesehatan.

Di Indonesia, terutama untuk pelayanan di tingkat Puskesmas sebenar sudah diberlakukan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), dan sebagai penguat/pendukung ditingkat masyarakat DepKes bersama beberapa NGO juga sudah menerapkan Manajemen Terpadu Balita Sakit Berbasis Masyarakat (MTBS-BM).



Saya tidak akan berbicara tentang program tersebut, karena mungkin tidak begitu menarik buat banyak kita-kita (terlalu medis kaleee…padahal ga kok, hehehhe…maksa amat nih yang nulis).

Saya hanya mo berbagi sedikit informasi, bagaimana orangtua dan pengasuh anak mengenali Tanda Bahaya pada anak sakit, sehingga bagi kita-kita yang punya anak dirumah atau punya ponakan atau punya anak tetangga juga boleh deh, atau buat dikasih tau pada siapapun…tau kapan saat anak kita perlu mendapat pertolongan petugas kesehatan (bidan, dokter, dll) atau dibawa kerumah sakit, kapan yang masih bias ditangani di rumah. Karena, sebenarnya ga semua anak sakit perlu dibawa kedokter dan konco-konconya lho! (Sorry bapak dan ibu dokter! Kan lumayan, uangnya bisa di hemat, hehehe).



Ada istilah Tanda Bahaya Umum, artinya apapun penyakit anak kita jika dia sudah memiliki tanda-tanda tersebut anak sudah dalam tanda bahaya dan tanpa tawar menawar harus segara dibawa kepetugas (Bidan, dokter) dan sarana kesehatan (Puskesmas, RS, klinik). Kalau anak-anak sudah mengalami salah satu dari hal-hal ini: memuntahkan segalanya (apapun yang dimasukkkan dalam mulutnya keluar lagi); tidak bisa (bukan tidak mau, ya!) menelan apapun; kejang dan kesadarannya menurun. Wah kalau anak sudah begini ga dikasih taupun pasti dibawa ke dokter atau RS lah, (mungkin da kita yang akan berkomentar begitu!), tapi jangan salah, itu karena kita punya pengetahuan, sering baca teve dan nonton buku (eh, kebalik ya, gapapa deh, biar ga terlalu serius!) dan kondisi kantong yang memungkin untuk segera membawa anak ke RS atau dokter. Coba aja, kalau kita rajin mengamati kondisi disekeliling kita (terutama buat kita yang tinggal atau bekerja di daerah), banyak lho orangtua/pengasuh yang tidak paham, sehingga melakukan tindakan yang justru membahayakan anaknya.



Kemudian ada juga istilah Tanda Bahaya Khusus, sesuai dengan penyakit yang diderita anak. Kalau anak kita Batuk, batuk seperti apa yang anak perlu dibawa ke dokter atau RS, kalau anak Diare, kondisi seperti yang membuat anak kita harus ditolong dokter demikian juga dengan Demam. Oh ya, Batuk, Diare dan Demam itu, bukan penyakit tapi gejala penyakit. Maksudnya kalau anak tersebut Batuk, Diare atau Demam dalam kondisi-kondisi khusus mungkin ia mengalami penyakit lain seperti Disentri, Pnemonia, Demam Berdarah, Malaria, dll.



Anak Diare dikatakan berbahaya kalau: diarenya mengandung darah (mungkin dia disentri) dan ada indikasi dehidrasi (dehidrasi sedang karena kalau dehidrasi ringan masih bisa di tolong dengan memberi oralit dan tablet zinc) atau diare yang lebih dari 14 hari dengan atau tanpa dehirasi. Anak Batuk dikatakan berbahaya kalau: batuk disertai dengan nafas cepat/kesulitan bernafas dan penarikan dinding dada (tanda-tanda pnemonia) atau batuknya sudah lebih dari 30 hari (mungkin dia menderita TB). Untuk anak Demam kalau demamnya lebih dari 7 hari . Kalau anak-anak sudah memiliki tanda-tanda tersebut maka perlu segera dibawa kerumah sakit.

Kenapa mesti begitu? Banyak anak-anak kita yang hanya diare biasa (ga ada tanda bahaya) dan masih bisa hanya diberi oralit dan cairan lainnya dirumah tapi karena pengetahuan orangtua/ pengasuh yang terbatas, kecemasan berlebihan, dll langsung kebawa ke RS atau dokter. Masih mending kalu ketemu dokter atau petugas medis yang bijak, kalau tidak, jadilah anak kita mengkomsumsi obat yang sebenarnya ga perlu. Padahal salah satu penyebab diare adalah penggunaan obat yang tidak bijak, lho! Begitu juga kalau batuk, mungkin masih bisa dengan pertolongan sederhana dirumah (diberi obat pelega tenggorokan, minum air putih yang banyak, dll.

Oh ya, sekedar info, kalau dipedesaan justru kadang kondisinya terbalik lho, petugas di puskesmas atau bidan tahu kalau anak yang dibawa berobat belum dalam kondisi bahaya (petugasnya paham MTBS) maka anak yang sakit hanya diberi oralit saja (untuk diare) atau disuruh minum jeruk nipis dan kecap (untuk batuk) tanpa dikasih obat lain, eh, orangtua/pengasuh malah ngomel-ngomel, datang jauh-jauh anaknya ga diobati. Ooo...itu karena masih terbatasnya pengetahuan mereka atau mungkin penjelasan dari petugas yang belum lengkap (sorry, teman teman petugas!).



Segitu dulu deh, tulisannya.

So, semoga kita tahu saat yang tepat kapan anak segera harus mendapat pertolongan, sehingga kita dapat menyelamatkan lebih banyak anak-anak dari bahaya kematian.



Thanks, wawak, diskusinya pagi-pagi!