
Semalam, saya membaca sebuah artikel di sebuah majalah keluarga yang mebahas tentang ke prihatinan seorang pengamat media, tentang banyaknya anak-anak yang ‘dilepas’ (tanpa bimbingan orangtua) menonton sekuel Batman;Dark Knigt, seolah-olah itu film anak-anak karena bergenre , Hero.
Sang pengamat membuat perbandingan, bahwa ketika anak-anak belajar sendiri (tidak ditemani orangtua/pengasuh, hanya bersam teman-teman sebaya) pergi kebioskop, Mall, dll, disatu sisi memang melatih kemandirian, tapi tidak sebanding dengan akibat yang ditimbulkan pada perkembangan psykology anak.
Saya justru menggaris bawahi dan tertarik untuk menuliskan tentang, kata-kata kemandirian.
Hal ini juga berawal dari keprihatinan saya selama ini, yang melihat bahwa makin kesini, saya melihat bahwa anak-anak kita dari generasi ke generasi makin berkurang kemandiriannya, atau paling tidak/paling ekstrim, kemandiriannya lambat tumbuh jika dibanding dengan pertambahan umur anak.
Ketika SMA sampai Kuliah kami memiliki tetangga yang memiliki anak kembar perempuan, mereka sudah SMP saat saya memasuki bangku kuliah, namun setiap kali ibu mengobrol dengan kami, dia sering mengeluhkan kedua putri kembarnya yang ‘belum juga bisa apa-apa’. Tante itu sering bercerita (kadang kupikir nadanya tidak terlalu mengkawatirkan keadaan itu sebenarnya, Astaqfirullah, maaf Tante…, keadaan anak gadisnya itu), bagaimana setiap pagi suaminya yang Alhamdulilah suami yang ringan tangan menyiapkan pakaian seragam dan keperluan putrinya untuk berangkat sekolah sementara si tante siabuk menyiapakan sarapan untuk suami dan ke lima putra putrinya. Tidak sampai disitu, apada hari libur, aku sering melihat sang om mengeluarkan pakaian dari mesin cui untuk menjemur dan tentu saja dalam pakaian itu ada pakaian putri-putrinya itu.
Saya terheran-heran luar, biasa. Ingat, anak perempuannya sudak SMP lho!
Saya memutar memori saya kemasa lalu, (tanpa bermaksud membangga), jaman Sekolah Dasar itu adalah masa-masa 80-an, dimana kelas dua SD aku sudah bisa atau aling tidak belajar mencuci baju sendiri, sudah bisa bantu mama memasak, mencuci piring dan beres-beres rumah.
Apakah karena kami hidup di zaman berbeda (era 80-an dan era 90-an)? Atau karena saya dibesarkan di desa tanpa pembantu, dan ibu saya harus mengajar dari pagi sampai siang? Atau karena jaman saya teman kami hanya buku-buku dan majalah serta acara-acara TVRI pada waktu-waktu tertentu (karena orangtuaku punya batasan acara yang boleh kami tonton dan tidak, serta jam berapa kami baru boleh menonton TV di malam hari)???
Entahlah, yang pasti faktor itu tentu saja berpengaruh, namun sisi kritisku melihat, peran orangtua. Peran dalam arti; kemauan orangtua untuk membuat/ melatih anak menjadi seorang pribadi yang mandiri dimulai dari skala paling rendah (mengurus keperluan pribadinya sendiri, seperti seragam, tas sekolah, buku, dll). Fenomena yang umum terjadi justru ketidaksiapan orangtua untuk ‘melepas anak’ mandiri. Ada ketakutan, kalau anak mencuci pakaian, mencuci piring, dan pekerjaan ringan yang sebenarnya bisa dikerjakan anak sendiri, akan ‘membuat’ anak capek, lelah, bahkan terluka, dsb. Ini lah yang dalam istilah saya, rasa sayang yang salah kaprah. Orangtua memang beralibi mereka tidak membiarkan anak-anak mereka melakukan itu semua, karena sayang…tapi…tepat kah???
Ada pepatah di minangkabau ‘sayang jo anak dilacuti, sayang jo kampuang ditinggakan’ (kalau sayang pada anak dipukul, sayang dengan kampung ditinggalkan), heiitt…tunggu ini jangan diterjemahkan bahwa orang minang mensyahkan kekerasan pada anak. Artinya dalam falsafah hidup orang minang, jika kita benar-benar sayang pada anak, harus berani membuat dia belajar hal-hal yang kelihatannya keras dan menyakitkan, namun itu akan memberi dia mamfaat yang besar suatu saat kelak dalam hidupnya.
Kembali, ke fenomena kemandirian yang lambat, juga saya sendiri merasakan beberapa akibatnya sekarang. Beberapa hal yang ingin saya urakan ini, mudah-mudahan bisa menambah info buat kita, dan saya yakin rekan-rekan semua juga pernah merasakan, menyaksikan bahkan mengalaminya sendiri.
Dalam bekerja, dilapangan saya dibantu teman-teman staf yang kebanyakan adalah generasinya “anak tetangga saya tadi”, satu hal yang paling terasa, sebagai akibat “paling tidak dugaannya” dulu mereka kurang mandiri atau terlambat mandirinya, mereka kebanyakan punya daya juang yang rendah. Banyak mereka yang mudah menyerah jika menghadapi permasalahan-permasalahan dalam dunia kerja, kurang gesit, dan akan panik jika mendapat beberapa pekerjaan sekaligus atau malah cuma dalam rentang waktu yang berdekatan. Emang sih, nggak ada penelitian atau alasan ilmiah yang bisa menguatkan asumsi saya itu, tapi…yah, saya sih yakin aja itu ada hubungannya. Yeee…maksa!
Keponakan saya sendiri, juga salah satu korban, penempatan kasih sayang yang salah kaprah itu. Aneh ya? Orangtua yang dulu sukses membimbing anak-anaknya mandiri, tapi sering KO kalau sudah menghadapi cucu, he…he…he…
Sepasang bocah kelas empat dan dua SD itu, termasuk generasi 2000-an yang rada-rada nggak mandiri, tapi aku selalu nyinyir pada orangtua saya (nenek mereka) dan bundanya, bahwa mereka harus terus dilatih, bahkan setiap kali menelpon mereka, saya selalu menyelipkan pertanyaan-pertanyaan yang memancing dan melatih kemandirian mereka. Saya selalu berharap ini belum terlambat, untuk membuat mereka lebih struggle di masa depan dengan makan beratnya tantangan didunia pendidikan dan pekerjaan. Yah, paling tidak mereka anggota keluarga terdekat yang masih bisa dibantu. Padahal ditempat lain, saya hanya bisa menyaksikan anak-anak berseragam merah putih bahkan putih abu-abu, masih merengek pada ibunya, hanya untuk segelas minuman atau sepiring makanan .
Sang pengamat membuat perbandingan, bahwa ketika anak-anak belajar sendiri (tidak ditemani orangtua/pengasuh, hanya bersam teman-teman sebaya) pergi kebioskop, Mall, dll, disatu sisi memang melatih kemandirian, tapi tidak sebanding dengan akibat yang ditimbulkan pada perkembangan psykology anak.
Saya justru menggaris bawahi dan tertarik untuk menuliskan tentang, kata-kata kemandirian.
Hal ini juga berawal dari keprihatinan saya selama ini, yang melihat bahwa makin kesini, saya melihat bahwa anak-anak kita dari generasi ke generasi makin berkurang kemandiriannya, atau paling tidak/paling ekstrim, kemandiriannya lambat tumbuh jika dibanding dengan pertambahan umur anak.
Ketika SMA sampai Kuliah kami memiliki tetangga yang memiliki anak kembar perempuan, mereka sudah SMP saat saya memasuki bangku kuliah, namun setiap kali ibu mengobrol dengan kami, dia sering mengeluhkan kedua putri kembarnya yang ‘belum juga bisa apa-apa’. Tante itu sering bercerita (kadang kupikir nadanya tidak terlalu mengkawatirkan keadaan itu sebenarnya, Astaqfirullah, maaf Tante…, keadaan anak gadisnya itu), bagaimana setiap pagi suaminya yang Alhamdulilah suami yang ringan tangan menyiapkan pakaian seragam dan keperluan putrinya untuk berangkat sekolah sementara si tante siabuk menyiapakan sarapan untuk suami dan ke lima putra putrinya. Tidak sampai disitu, apada hari libur, aku sering melihat sang om mengeluarkan pakaian dari mesin cui untuk menjemur dan tentu saja dalam pakaian itu ada pakaian putri-putrinya itu.
Saya terheran-heran luar, biasa. Ingat, anak perempuannya sudak SMP lho!
Saya memutar memori saya kemasa lalu, (tanpa bermaksud membangga), jaman Sekolah Dasar itu adalah masa-masa 80-an, dimana kelas dua SD aku sudah bisa atau aling tidak belajar mencuci baju sendiri, sudah bisa bantu mama memasak, mencuci piring dan beres-beres rumah.
Apakah karena kami hidup di zaman berbeda (era 80-an dan era 90-an)? Atau karena saya dibesarkan di desa tanpa pembantu, dan ibu saya harus mengajar dari pagi sampai siang? Atau karena jaman saya teman kami hanya buku-buku dan majalah serta acara-acara TVRI pada waktu-waktu tertentu (karena orangtuaku punya batasan acara yang boleh kami tonton dan tidak, serta jam berapa kami baru boleh menonton TV di malam hari)???
Entahlah, yang pasti faktor itu tentu saja berpengaruh, namun sisi kritisku melihat, peran orangtua. Peran dalam arti; kemauan orangtua untuk membuat/ melatih anak menjadi seorang pribadi yang mandiri dimulai dari skala paling rendah (mengurus keperluan pribadinya sendiri, seperti seragam, tas sekolah, buku, dll). Fenomena yang umum terjadi justru ketidaksiapan orangtua untuk ‘melepas anak’ mandiri. Ada ketakutan, kalau anak mencuci pakaian, mencuci piring, dan pekerjaan ringan yang sebenarnya bisa dikerjakan anak sendiri, akan ‘membuat’ anak capek, lelah, bahkan terluka, dsb. Ini lah yang dalam istilah saya, rasa sayang yang salah kaprah. Orangtua memang beralibi mereka tidak membiarkan anak-anak mereka melakukan itu semua, karena sayang…tapi…tepat kah???
Ada pepatah di minangkabau ‘sayang jo anak dilacuti, sayang jo kampuang ditinggakan’ (kalau sayang pada anak dipukul, sayang dengan kampung ditinggalkan), heiitt…tunggu ini jangan diterjemahkan bahwa orang minang mensyahkan kekerasan pada anak. Artinya dalam falsafah hidup orang minang, jika kita benar-benar sayang pada anak, harus berani membuat dia belajar hal-hal yang kelihatannya keras dan menyakitkan, namun itu akan memberi dia mamfaat yang besar suatu saat kelak dalam hidupnya.
Kembali, ke fenomena kemandirian yang lambat, juga saya sendiri merasakan beberapa akibatnya sekarang. Beberapa hal yang ingin saya urakan ini, mudah-mudahan bisa menambah info buat kita, dan saya yakin rekan-rekan semua juga pernah merasakan, menyaksikan bahkan mengalaminya sendiri.
Dalam bekerja, dilapangan saya dibantu teman-teman staf yang kebanyakan adalah generasinya “anak tetangga saya tadi”, satu hal yang paling terasa, sebagai akibat “paling tidak dugaannya” dulu mereka kurang mandiri atau terlambat mandirinya, mereka kebanyakan punya daya juang yang rendah. Banyak mereka yang mudah menyerah jika menghadapi permasalahan-permasalahan dalam dunia kerja, kurang gesit, dan akan panik jika mendapat beberapa pekerjaan sekaligus atau malah cuma dalam rentang waktu yang berdekatan. Emang sih, nggak ada penelitian atau alasan ilmiah yang bisa menguatkan asumsi saya itu, tapi…yah, saya sih yakin aja itu ada hubungannya. Yeee…maksa!
Keponakan saya sendiri, juga salah satu korban, penempatan kasih sayang yang salah kaprah itu. Aneh ya? Orangtua yang dulu sukses membimbing anak-anaknya mandiri, tapi sering KO kalau sudah menghadapi cucu, he…he…he…
Sepasang bocah kelas empat dan dua SD itu, termasuk generasi 2000-an yang rada-rada nggak mandiri, tapi aku selalu nyinyir pada orangtua saya (nenek mereka) dan bundanya, bahwa mereka harus terus dilatih, bahkan setiap kali menelpon mereka, saya selalu menyelipkan pertanyaan-pertanyaan yang memancing dan melatih kemandirian mereka. Saya selalu berharap ini belum terlambat, untuk membuat mereka lebih struggle di masa depan dengan makan beratnya tantangan didunia pendidikan dan pekerjaan. Yah, paling tidak mereka anggota keluarga terdekat yang masih bisa dibantu. Padahal ditempat lain, saya hanya bisa menyaksikan anak-anak berseragam merah putih bahkan putih abu-abu, masih merengek pada ibunya, hanya untuk segelas minuman atau sepiring makanan .
Ntar sambung tulisannya.....di telpon karina dari tadi, jadi nggak konsen lagi nulis...
