Sabtu, Juli 12, 2008

2 HARI DENGAN ANAK (tulisan pertama)

Tidak akan ada yang akan pernah habis, jika bercerita tentang anak.
2 Hari minggulalu, berturut-turut aku mengikuti kegiatan yang melibatkan anak, acara dimana aku bisa merasakan apa yang tahun laluhapir jadi pemandangan rutinkku ika aku melakukan supervise.
Karena berada dalam rentang waktu dan tempat yang berbeda, sensasi dihati yang terasa juga jadi berbeda. Keharuan-keharuan kecil menyelinab masuk dalam relung hati, menggetarkan dan seperti ingin mendorong tetesan kecil dimata ketika menceritakan ada orang lain. Munkin tipikal yang mudah terharu, ataumalah cengeng….

Hari pertama, ada begitu banyak anak yang berkumpul dalam kegiatan pendidikan hygiene dan sanitasi yang diselnggarakan oleh teman-teman lapangan program, bekerjasama dengan sanitarian puskesmas dan kader posyandu.
Generasi masa depan itu, begitu semangat untuk mengikuti kegiatan yang dibuat dengan pedekatan yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan secara berkelompok, sehingga mereka tidak seperti tengah digurui. Mereka merasa tengah bermain,bercanda, tapi mereka mencoba mempelajari sendiri didampingi fasilitator pesan-pesan pendidikan hygiene dan sanitasi dalam permainan tersebut.
Selain, itu ada juga uji nyali untuk meningkatkan keberanian, mereka diminta untuk tampil kedepan untuk menceritakan dan menyampaikan pada banyak anak lain diluar kelompoknya.
Tentu ada kebanggaan dimata para orangtua mereka (ibu) -yang juga hadir dan mengikuti kegiatan pendidikan hygienen dan sanitasi- itu bersama disana melihat anaknya berani menyampaikan pendapat mereka.
Mungkin bukan hal aneh, jika saya dan anda menyaksikan kegiatan/pemandangan seperti ini dikota-kota atau sekolah-sekolah pavorit kabupaten atau propinsi di Indonesia. Tapi ini, di sebuah tempat yang mungkin anda tidak pernah dengar, nama kabupatennya sekalipun. Dalam rentang waktu yang begitu panjang melihat ‘ke-diam-an” orang-orang disekitar mereka bahkan orangtua mereka sendiri, karena kondisi sosialpolitik disekitar mereka dimana berpendapat, apalagi berbicara dimuka umum adalah barang mahal untuk mereka.

Aku menyelinab diantara mereka, mendekati beberapa sampai sekurumunan dari mereka, mencoba melihat apa yang mereka lakukan.
Begitulah melihat mereka, kita hanya tersenyum dan mengingatkan pada masa kecil kita yang kadang iseng dan nakal. Beberapa tangan kecil yang (aku lebih suka menyebutnya kreatif yang salah tempat dibanding menyebutnya dengan kata bandel), bergerilya menggangu kesenangan dan keasyikan teman-temannya. Sehingga jeritan atau rengekan terdengar dari mulut-mulut kerja anak yang jadi ‘sasaran’ kreatif salah tempat itu. Aku lumayan belajar, tidak memarahi atau membentak mereka (ini yang selalu kucoba sampaikan pada banyak orangtua, petugas, guru-guru, dll dalam banyak training-training, atau diskusi langsung), aku mencoba tersenyum, menanyakan namnay mereka, menanyakan kenapa mereka melakukan itu, dan ketika anak-anak itu tersipu malu, kata-kata itu kuluncurkan. Bukan,, nasehat, hanya mengajarkan mereka berpikir logis, kalau anaka-anak itu melakukannya, kasihan teman mereka nanti kesakitan atau terganggu konsentrasinya….(Aduh!!! Pengen sekali punya tempat atau moment untuk membagi metoda seperti ini untuk mecoba mendekati anak, sehingga tidak lagi orangtua berpikir dan mengatakan anak saya bandel).

Dalam gerilya itu, sempat juga menjadi “wasit” pada beberapa perseteruan kecil antara anak laki-laki yang tengah belajar jadi jagoan kecil. Awalnya, mungkin hanya pembicaraan/diskusi kecil, tapi kemudian berekembang kearah tak terkendali, sehingga selain mulut tanganpun ikut bermain. Keributan kecil, yang anggap saja sebuah seni pergaulan. Lalu, hentikanmereka dengan menyodorkan diri anda sebagai ganti lawan mereka, dengan senyum bertanya siapa namanya (keduanya tentu), apa yag mereka lakukan, dan siapa yang jagoan diantara mereka…
Senyum malu-malu itu, terkembang dan kadang keluar cengengesan khas anak. Mungkin saja dalam hatinya, ia berpikir kenapa hasratku dihalangi, ntar tunggu aku balas diluar. He…he…he…dulu wakatu nak-anak kita begitu, kalau dipisahkan guru atau orangtua saat berantam, dibelakang punggung guru tinju kita masih terkepal diarahkan pada lawan. Ah, dunia anak-anak…sering kepenatan hidup masa dewasa membuat kita ingin menjemputnya kembali.

Melihat mereka, bermain, belajar, bahkan berkelahi, begitu menyenangkan, sekaligus membuat berpikir, berapa lama mereka akan tetap bisa begitu. Seberapa besar peluang mereka untuk terus berada dalam situasi yang menguntungkan seprti itu. Bebas mengekspresikan kreatifitas dan kemampuan diri, bebas bersuara, bertanya tentang apa yang ingin mereka tahu, apa yang mereka tahu dan ingin tahu?
Hanya disekolah dasar ketika dunia pendidikan yang masih murah cukupmemberi mereka tempat untuk itu, atau ketika orangtua mereka cukup punya uang untuk membuat mereka terus mengenankan celana/rok dongker,lalu celana/rok abu-abu atau akankah mereka mendapatkan kesempatan itu selama mereka masih mau dan punya keinginan. Entahlah, jika kondisi Negara ini terus begini, selama sekolah akan terus menjadi barang mahal, selama mental pengelola, pengajar masih berorientasi uang semata, akankah???