Jumat, Oktober 10, 2008

Baju lebaran Faruq…

Pemandangan apa yang menarik di hari Lebaran, didunia anak? Jawabannya tentu bju baru, karena ketupat, kue dan sejenisna adalah dunia kaum dewasa.

Untuk selembar (atau berlembar-lembar) baju baru, orangua rela melakukan apa saja (termasuk ngutang, kali ya?), begitulah orang tua kita, biarlah dia tetap memakai mukenah atau baju yang sudah kehilangan warna, asal anaknya tetap mengunakan baju baru pada hari lebaran

Lebaran sudah lewat, tapi masih ada yang membekas di hatiku, tentang baju baru dan seorang bocah bernama faruq.

Anak ini menurutku ‘uniq’, seperti saudaranya ia juga disediakan (bahkan lebih dari 1 stel baju baru termasuk baju muslim untuk salat Idul Fitri), tidak hanya oleh ayah bundanya tapi juga oleh tante-tante dan kakek nenek nya.

Pagi lebaran ia mengenakan pakaian muslimnya, pelajar kelas dua SD itu memang sudah terbiasa ikut salat hari Raya sejak ia masih di Sekolah TK. Biasanya selesai salat idulfitri anak-anak sebaya dia termasuk kakaknya akan berganti pakaian dengan baju lebaran lainnya (yang bukan pakaian muslim), tapi tidak dengan Faruq…Sampai kegiatan kelilin kerumah saudara-saudara selesai bahakan telat melewati jam makan siang, dia masih setia dengan pakaian muslimnya itu. Orangtua dan keluarga yang lain, sudah meminta dan menawarkan agar ia berganti pakaian, tapi ia masih kukuh dengan pendirian untuk tetap mengenakan pakaian itu. Tanpa Alasan…Sorenya setelah mandi, baru ia berganti pakaian dengan kostum rumahnya sehari-hari

Namun, itu masih lebih baik, aku ingat dua tahun lalu ketika ia masih TK, sepulang lebaran ia bersedia mengganti baju koko nya yang waktu itu memang berwarna putih, tapi…bukan dengan pakaian lebaraan yang lainnya. Ia menolak menggunakan pakaian lebarannya yang lain, dan mencari sendiri dalam lemari pakaiannya pakaian yang biasa ia kenakan sehari-hari. Kita semua geleng-geleng kepala, dan akhirnya berhasil membujuk dia untuk mengenakan pakaian di yang bukan baju lebaran, tapi masih lebih baik dari baju yang dia plih pertama. Dan Subhanallah, waktu itu ia masih lima (5) tahun lebih.

Aneh kah anak itu? Sebenarnya kalau mau jujur, yang aneh kita orang dewasa yang merasa aneh ia berpakaian begitu. Saya sendiri tidak mengerti dan tidak tahu persis apa alasan dia tidak mau mengenakan baju lebarannya. Mungkin belum dengan alasan-alasan teoritis ilmiah tentang prinsip hemat, tawadu’ dan lain-lainnya. Ia hanya seorang anak kecil yang sedikit keluar dari tradisi yang kita ciptakan, bahwa semua orang (terutama anak-anak) harus mengenakan baju baru saat lebaran. Dan kita merasa aneh, bahkan malu sebagi orangtua jika tidak menyediakan atau melihat anak kita mengenakan baju baru saat lebaran.

Bahkan ada seorang pekerja di pertanian kami, sampai harus mengutang beli makanan untuk keperluan lebaran, karena upah kerjanya sehari-hari dipakai untuk membeli aju lebaran anaknya. Dan ia hanya, satu dari sekian banyak orang di negeri ini yang bernasib sama bahkan lebih buruk.

Orang-orang kita (termasuk saya barangkali), seringkali melihat bahwa wujud kasih sayang orangtua pada anak adalah dengan memenuhi simbol-simbol seperti ini, apalagi ditengah bombardir media yang menyuguhkan stigma, bahwa lebaran adalah baju baru. Sangat jarang saya menemukan orangtua yang mencoba mengevaluasi diakhir Ramadhan tentang puasa mereka, mengajarkan mereka tentang konsep zakat yang harus ditunaikan, konsep kesederhanaan bahwa lebaran tidak mesti baju baru, sandal baru, mukenah baru, agar anak dari kecil belajar tentang kepekaan sosial pada kondisi disekelilingnya (berbahagialah anak-anak yang memiliki orangtua yang melakukan ini).

Kembali ke Faruq…

Ketka lebaran hari kedua, kami tidak kemana-mana (ia menolak ikut orangtuanya kerumah saudara ayahnya, karena ada omnya yang datang yang suka ngajak ia keliling-keliling naik motor), setelah mandi pagi ia masih kukuh tidak mau mengenakan pakaian lebarannya, bahkan pakaian lebaran yan tahun sebeleumnya sekalipun. Ia memilih sendiri pakaian dilemarinya dan tentu saja itu adalah pakaian harian dia biasa. Untung saja ia termasuk anak yang rapi, yang terbiasa dengan pakaian harian stelan.

Untung…kata-kata itu, keteika saya menuliskan kata “untung”, itu adalah implikasi dari stigma saya, kan? Saya masih merasa risih, ketika anak itu berpakaian sederhana (padahal bersih dan rapi). Apa yang saya pikirkan? Malu, gengsi? Mungkin begitu. Kita sering memikirkan apa yang sebenarnya tidak dipikirkan orang lain. “Wah, masa kedua orangtuanya punya pekerjaan, anaknya ga dibelikan baju lebaran, wah baju orangtuanya sih bagus, tapi lihat anaknya, bla…bla..bla…”

Kenapa kita lebih mementingkan apa kata orang lain (iya kalau memang orang lain itu ngomong, kalau nggak kan sudah buat dosa dengan berprasangka buruk.

Apa salah, kalau ia mengenakan pakaian sederhana, toh hanya dirumah? Aneh, ya kita. Bukankan sebenarnya itu pertanda baik, bat dia dan Faruq-faruq lainnya. Terlepas dari apapun alasannya tidak mau, yng jelas anak itu punya bibit untuk punya rasa sensitive sosial yang baik.

Bukankan tidak semua anak mampu membeli baju baru saat lebaran, atau bukankan sangat banyak anak hanya punya sepasang baju baru saja, sehingga harus dihemat dengan hanya dipakai saat pergi salat dan keluar rumah saja…

Yah, mungkin saya dan kita semua, harus mulai memperbaiki pola piker kita, dan memamfaat potensi yang dimiliki anak-anak kita untuk mengantar dia kemasa depan yang makin sulit, dimana kepedulian sosial sudah harus ditanamkan dari dini….