Jumat, Juni 20, 2008

CORAT CORET

Beberapa hari yang lalu, perjalanan mobil kami terhalang konvoi kendaraan bermotor...agak heran, ada demo apa?
Makin dekat makain jelas, banyak anak muda berboncengan, mengibarkan bendera dan berteriak-teriak tak jelas. Masya Allah!
Yang lebih menarik dari itu adalah, apa yang tengah mereka kenakan. BAJU SERAGAM SEKOLAH!
Lho kok aneh?
Nggak aneh kalau mereka mengenakan pakaian putih abu-abu saja!
Ini, baju putih dan abu-abu itu, telah menjadi parade warna dari cat pilox atau spidol yang bertuliskan tanda tangan, kata-kata dan lukisan yang membuat suasanya seperti ajang lomba kreasi warna deainer menyongsong musim liburan Juni Juli ini…
Kami sampai, membuak ejendela mobil dan menggoda mereka, bebrap teman saya yang iseng malah mengajak anak-anak itu pergi jalan ke pantai bali (tempat wisata), aku pun ikut rembug “ Dek, bajunya cantik ya/ tapi kayak lebih indah kalau tetp berwarna putih!”

Yah!
Baju itu akan tetap indah kalau dibiarkan putih dalam banyak pengertian
Kalau baju itu tetap putih, artinya mereka tidak perlu melakukan tradisi tidak berguna yang tidak punya pelajaran apapun…kenang-kenangan? Mang nggak ada tempat lain?
Kan bisa beli kertas, buku diari atau kain yang khusus untuk bikin moment. Jadi tetap bisa merayakan moment mengenang hari kelulusan itu. (boleh dicoba!!!)
Apa sebenarnya yang ingin diperlihatakan dan dimaknai dengan tradisi ini?

Kalau tetap dibiarkan putih pakaian mereka akan bisa dipergunakan lagi oleh orang lain, bisa adik, kelaurga, atau disumbangkan pada orang lain yang lebih membutuhkan. Apalagi pada zaman susah begini…

Memang sulit untuk menghindar dari tradisi yang sudah berurat berakar di seantaro negeri ini, sampai-sampai dulu waktu saya lulus SMA harus menghindar dengan datang kesekolah sore hari, pada saat orang yang mo corat-coret dah pada pulang, atau kalu ada yang masih disekolah sudah tidak punya energi lagi untuk corat coret. Cukup jitu juga. Baju putih saya itu masih awet sampai hari ini. Soalnya mo dikasih ke orang nggak ada yang mau, he…he…

Apa sebenarnya yang mereka cari? Jati diri? Kepuasan, sensasi?
”Nggak tau, ikut-ikutan aja” ini salah satu jawaban mereka ketika dulu iseng say pernah tanya
”Yah, semua kan pada tanda tangan baju, mbak, masa kita nggak, nggak gaul dong!!!” nah kalau ini termasuk kategori mana nih
”Kalau aku, hanya mau terima tanda tangan dibajuku, tapi nggak mau di pilox” ada juga yang jawab begitu.

Apapaun jawabnya, semua bermauara pada...(APA YA?)
Aku sih menyebutnya, pencarian jati diri. Aku mang bukan psylolog, atau pengamat sosial budaya. Aku hanya orang yang peduli dan prihatin aja, ketika melihat anak-anak muda itu mengekspresikan kegembiraan setelah berbulan-bulan dibawah tekanan HANTU UAN, dengan cara yang jelas-jelas ditinjau dari sudut pandang apapun tidak oke...Dah lah bajunya (bahkan mungkin tembus kebadan) jelek, nggak bisa lagi dipakai, nggak ada seninya, pokoknya NGGAK ADA BAGUS_BAGUSNYA, DEH
Bagaiman pendapat anda?.