Sabtu, Mei 17, 2008

Korupsi Waktu

Hari ini, untuk pertama kalinya aku duduk, tercenung dan berpikir, terhadap suatu hal yang selama beberapa waktu belakang sudah hampir menjadi pemandangan rutin saya...
Anak-anak sekolah berkeliaran, ada juga beberap kelas yang belajar, dan guru-gurunya ada yang 'pergi ke kecamatan', pulang atau yang lebih menyedihkan duduk diruang guru.
Saya bertanga (tepatnya menggali info), kenapa anak-anak tidak belajar? Apakah karena ini masih hari kketiga mulai sekolah setelah liburan semester?
*Sekolah ini kekurangan guru tetap. Oh, ternyata walaupun anggaran pendidikan sudah ditingkatkan dan setiap tahun ada pengangkatan PNS untuk guru, ada guru kontrak, tapi masih saja ada sekolah di negeri ini yang kekurangan guru.
Dari dulu saya suka ngomel, sebenar di negeri ini bukan kekurangan guru, tapi ketidak merataan penempatan guru. Lihatlah dipropinsi manapun, kabupten manapun (saya pikir), banyak sekolah-sekolah inti atau sekolah yang berlokasi dekat dengan perkotaan atau jalan raya/keramaian yang memiliki guru 'lebih dari cukup, bahkan sekolah negeri tersebut bisa membuat sistem guru bidang studi dan guru wali kelas (saking banyaknya guru)
Adayang gurunya ada urusan ke luar sekolah sehingga kelas tidak belajar
Karena Guru-guru yang memang 'nggak niat mengabdi' begitu SK penempatannya di sekolah-sekolah kampung atau terpenciil 'dengan segera' akan mencari 'jalan' agar ia bisa pindah kesekolah-sekolah seperti kondisi diatas tadi, urusan keluar hitungan juta untuk 'memperlancar' urusan itu hal biasakan?
Jadilah sekolah dikawasan terisolir, kampung dan jauh dari hiruk pikuk kemudahan itu hanya ditongkrongi beberapa guru sepuh yang mungkin kebetulan rumahnya dekat dengan kawasan sekolah tersebut, atau guru yang tidak cukup punya ‘jalan’ untuk keluar dari sekolah tersebut atau guru yang mungkin memang punya cita-cita mulia untuk mendidik dan memajukan anak-anak dipedesaan (tapi yang ini saya jamin angkanya jauh lebih kecil…maaf ya kalau ini tendensius banget, tapi dalam hati teman-teman pasti juga mengiyakan)
Kembali kecerita saya diatas, mungkin ini juga yang menyebabkan jawaban berikutnya kenapa anak-anak tidak belajar terjadi. Ada guru yang sebenarnya punya kelas, punya murid dan yang pasti punya kewajiban untuk masuk kelas, mendidik anak-anak didiknya, sehingga kelas hasil UAN mereka memuaskan dan lulus tentu saja, tapi dengan tenang (maaf tendensius lagi), tanpa rasa berdosa duduk dikantor dan meninggalkan anak-anaknya dikelas.
Mungkin…mereka sudah menerangkan pelajaran lalu memberi tugas, tapi apakah seperti itu mestinya menjadi seorang guru????? Silahkan kita jawab bersama
Kalau Cuma itu, jangan kita ribut dengan rendahnya prestasi anak-anak sekolah, angka% kelulusan UAN rendah, anak-anak tidak menghormati guru (seperti zaman say SD dulu), angka kenakalan murid tinggi, dan sedret akibta lainnya.
Lalu bagaimana menyadarkan mereka?
Adasekelumit keharuan plus kebanggaan dihati saya ketika dalam sebuah situasi ini saya bertemu dengan seorang guru (saya yakin beliau guru senior/sepuh dan pengabdi yang baik), dengan suara lantang beliau bilang, “bagaimana anak-anak akan belajar kalau guru tidak mengajar….”
Lalu keluarlah ucapan/seperti orasi malah, bahwa sekarang sudah zaman SBY semua serba terbuka, tidak ada yang ditutup-tutupi….., yang intinya dia mengkritisi bahwa sekarang banyak orang korupsi dimana-mana, banyak orang tidak menjadikan kewajiban dengan baik, dst.
Yang menarik adalah ketika ada yang menyanggah beliau dengan bertanya, “guru mau korupsi apa?
Dengan spontan ia menjawab “Korupsi waktu”
Yap! Sip!!! Ini yang kutunggu, semua diam, “dengan tidak mengajr kita sudak korupsi waktu…”
Saya yang seperti dapat moment tanpa mikir lagi ketika pun mendukung. Saya bercerita tentang sesuatu pada mereka, …
Adalah seorang guru sepuh sudah lama menjadi kepala sekolah sebelum pensiunnya, adalah seorang pengabdi yang saya kagumi, kami kagumi dan kami berusaha mewarisi nilai-nilai pengabdiannya dalam bekerja sampai hari ini. Beliau tidak pernah meninggalkan tugas walaupun badannya sedikit kurang sehat, ia baru akan rela beristirahat ditempat tidurnya kalau sudah benar-benar sakit. Ketika datang tawaran yang terlalu sering agar ia mengisi posisi yang lebih tinggi, ia menolak dan lebih senang memilih jadi kepala sekolah saja. Jawabannya sederhana saja pada anak-anaknya waktu itu “kalau ada jalan yang walaupun sederhana/tanpa berlimpah uang untuk membuat kita tidak banyak berbuat kesalahan, kenapa tidak pilih itu. Masa depan kalian yang dibesarkan dengan sesuatu yang jelas jauh lebih penting daripada hanya sebuah status”
Dan, ketika salah satu putrinya menjadi pengabdi negara juga walaupun dalam bidang berbeda, dengan penuh hikmah suatu hari ia ‘menegur’ putri yany yang memang waktu itu masih muda dan kadang juga muncul kemalasan bekerja. “Kalau kamu hari ini tiodak bekerja hanya karena malas berangkat, apakah apa yang kamu makan akan jadi halal?” ia tidak marah, tidak juga terus memaksa untuk pergi kerja, tapi dengan itu sang putri segera berkemas dan pergi menunaikan tugasnya.
Beliau adalah laki-laki yang selalu akan kucintai dan mencintaiku seumur hidup, laki-laki yang telah membesarkan ku sampai aku juga bisa bekerja dan menikmati pelajaran hidup tentang kewajiban dan pengabdian pada sebuah profesi yang sudah kita pilih.
Aku berdoa dalam hati, bahwa ada hati yang akan tersentuh, bukan untuk mengagumi cerita saya, tapi untuk melihat dengan mata dan pikiran yang jernih tentang nasib anak-bangsa ini kedepan, nasib yang mereka ikut juga menentukan, karena mereka lah pendidik dan pemberi ilmu bagi anak-anak itu sekarang. Jika mereka ikut korupsi waktu mereka berhutang dunia akhirat pada anak-anak yang ‘dititipkan’ pada mereka dihari-hari pendiduikannya….

Tidak ada komentar: