“Istriku baru melahirkan”,kebangaan menjadi seorang ayah, terdengar jelas dari suara temanku itu.
“ASI Ekslusife, nggak?” seperti biasa, pertanyaan itu ang langsung aku sodorkan.
“Oh, tentu…” iya yakin banget.
Aku tersenyum, “waktu baru lahir langsung disusui nggak?”
Ia, terkesiap sesaat, tapi kebali menjawab dengan yakin, “oh, istri saya ASI nya baru keluar setelah 3 hari…”
“Jadi selama itu, apa yang diminum bayimu?”
“Di beri susu sama bidan….”
WOOW…Ha………………..
Aku tersenyum bahkan sedikit tertawa (yang disembunyikan memang), ini kejadian yang paling sering saya alami memang, orang merasa memberikan ASI Eklusife pada bayinya, tai setelah ditanya lagi, eeh…begitu deh kejadiannya.
Mang apa sih, ASI Ekslusife? Defenisi yang digunakan WHO saat ini adalah “Pemberian ASI eksklusif: artinya bayi hanya diberikan ASI saja tanpa makanan atau minuman lain termasuk air putih (kecuali obat-obatan atau mineral dan ASI yang diperas) dari usia 0 – 6 bulan. (kata sekarang dipakai karena dulu memang menggunakan usia 0 – 4 bulan).
Lalu kalau seperti bayi temanku yang sudah duluan dikasih air atau susu atau madu, atau bahakan cau (tradisi di sunda memberi bayi pisang yang dikerok , ada beberap istilah lain dalam pemberian ASI pada bayi, yaitu:
Pemberian ASI predominan: disamping mendapat ASI, bayi tersebut juga diberi sedikit air minum, atau minuman cair lain seperti teh. Ya, kira-kira kalau ada bayi yang karena menangis saat ASI ibu belum keluar atau karena ibu lagi perlu, lalu orang menjaga atau bida memberi ia sedikit minuman atau cairan lain.
Kalau yang ini, Pemberian makanan artificial: memberi makanan pada bayi dengan menggunakan makanan buatan atau susu formula dan sama sekali tidak diberikan ASI, jelaskan berarti bayinya ya nggak di kasih ASI, bias karena ibu memang benar-benar tidak keluar ASI nya, atau ibunya meninggal saat melahirkan, atau ibu karena masalah psikologys tidak mau menyusui bayinya. Terus kalau yang campur-campur apa? Yang itu namanya, Pemberian ASI parsial: Memberikan makanan pada bayi dengan sebagian menyusui dan sebagian dengan memberikan makanan buatan, bisa susu atau sereal atau makanan lain. Gitu, lho!
Wah, ternyata macam-macam juga ya?
Iya, kita sering bilang kalau memberi training pada petugas, kader atau dalam pendidikan pada ibu balita, bahwa; menyusui adalah berkah yang pasti akan dialami oleh setiap perempuan yang diberi kesempatan jadi ibu, tapi banyak dari mereka yang tidak tahu dan tidak diberi pengetahuan tentang bagaimana menyusui yang baik dan benar, apa itu ASI Ekslusife, dll. Uung-ujungnya, banyak bayi mereka yang akhirnya kurang gizi,lalu menyalahkan harga susu yang mahal.
Lha wong, Allah memberi karunia tidak terhingga berupa ASI yang dijamin; lebih sehat/steril/bersih, lebih murah, mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan, kalau ibu menyusui maka tidak hanya menyehatkan bayi tapi juga ibu (mungkin dah pada tahu bahwa menyusui dapat mengurangi resiko kanker payudara), terus bisa lho menjarangkan kehamilan (KB Alami atau istilah kerennya Metoda Amenore Laktasi untuk yang memberikan ASI Eklusife selama 6 bulan, benar-benar yang ASI Eklusife lho, bukan ASI Predominan apalagi pemberian ASI Partial), and yang pasti lagi kalau ibu sudah menyusui bayinya (ibu nggak cuma cari uang terus beli berkaleng-kaleng susu yang diminumin baby sitter pakai botol lagi, iiiii) so pasti akan meningkatkan hubungan batin antara ibu dan anak. Untuk ini sering dengar ceritakan, bahwa sering stelah dewasa anak banyak yang melawan pada ibunya, atau pada saat tua siibu tinggal meratapi anak-anaknya yang lebih saying pada mobil, binatang peliharaan atau apapun tapi bukan pada ibunya, sapa tahu ajadulu ibu nggak menyusi bayinya, atau kalu pun menyeusui sekedar gugur kewajiban aja Nah kalau bayi diberi ASI Insya Allah akan meningkatkan perkembangan kecerdasan dan fisik anak (kalau yang ini buktikan aja sendiri, he…he…).
Terus ada juga yang menggelitik tentang susu formula, (berdasarkan pengalaman) ternyata banyak juga orang yang belum tahu tentang susu formula. Ada yang berpikir susu formula itu istilah susu yang yang memang mesti diberikan bidan pada bayi, hal ini sering terjadi terutama pasangan-pasangan muda yang memang belum punya pengetahuan tentang itu, dan percaya aja pada bidan yang membantu persalinan mereka, padahal lihat tuh plang-plang nama praktek bidan atau diruang prakteknya bahakan dirmah sakit pun, banyak sekali kampanye (tidak langsung memang) susu formula. So, tanpa bermaksud menuduh atau berprasangka, banyak memang klinik bidan atau RSB di jadikan produsen susu formula untuk mempromosikan produknya. Padahal itu jelas-jelas nggak benar dong, tapi mana peduli produsen yang begituan…hup sorry. Kalau pun ada yang protes, kenapa saat WHO dan pemerintah menggalakkan himbauan pemberian ASI Ekslusife kenapa produsen masih memproduksi Susu formula untuk bayi 0- 6 bulan?
Dulu, ada teman saya yang karena geram sama bidan yang memberikan susu formula pada bayi saudara perempuannya yang baru lahir, padahal ia sudah membagi ilmunya pada sang bidan agar tidak perlu kuatir pada bayi yang menangis karena ASI ibunya belum keluar, mengirim surat terbuka pada produsen susu formula tersebut, mempertanyakan kenapa memproduksi susu formula untuk bayi 0 – 6 bulan? Jawaban mereka? Bahwa susu formula untuk bay 0 – 6 bulan tetap di produksi hanya untuk kondisi tertentu (darurat jika dibutuhkan, ASI tidak keluar atau ibu tidak mau menyusui atau meninggal saat melahirkan). Namun pertanyaannya kemudian, apakah bidan-bidan atau perawat di rumah sakit di sosialiasikan dengan beiak dan benar tentang itu, atau kalaupun di sosialisasikan, siapa yang biasa menjamin moral dan nurani seorang untuk tidak “merusak” bayi hanya karena tergiur bonus yang dijanjikan oleh produsen susu formua tersebut. Iya, nggak???????
Kembali ke istilah susu formula tadi, aku memberitahu teman itu, kalau susu formula itu, ya susu kaleng…Lagi-lagi kami hanya tertawa, saya tahu teman saya itu tidak sendirian, banyak orang lain yang seperti dia. Padahal, dibanding ASI , susu formula memiliki banyak kekurangan; kemungkinan terkontaminasi Bakteti mungkin ada bila dicampurkan (namanya juga buatan Manusia), ia tidak punya factor anti infeksi (ASI tentu punya), tidak ada factor pertumbuhan, kalau pada ASI Proteinnya jumlahnya disesuai dengan kebutuhan bayi maka di susu formula sebagian diperbaiki, pada ASI cukup kandungan asam lemak esentialnya dan ada lipase sedangkan pada susu formula kurang, zat besinya di ASI walaupun sedikit tapi diserap dengan baik di susu formula karena ditambahakan jadi tidak diserap dengan baik, vitaminpun ditambahkan sedangkan di ASI cukup.
Terus, apa yang bias kita lakukan biar bayi kita sehat (sehingga nggak perlu lagi muncul masalah kuran gizi), walaupun susu formula mahal. Ini beberapa pesan yang harus sama-sama terus kita galakkan….Dan pada semua ibu yang Allah amanahkan seorang makluk mungil yang perlakukan kita hari ini kan menentukan bagaimana kelak mereka bersikap pada kita, dan kita semua bertanggung jawab mendukung ibu untuk ini, apalagi kalau kita seorang bidan, dokter, perawat atau siapapun lah:
1) Mulai pemberian ASI segera setelah melahirkan (Inisiasi Menyusu Dini);
2) Berikan ASI secara benar (menyusui itu ada teknik dan cara yang benar lho, ntar lain kali kita bahas, ya);
3) Berikan ASI saja (ASI Eksklusif) selama 6 bulan (jangan kasih susu formula apalagi cau) dan teruskan pemberian ASI sampai bayi berusia 2 tahun;
4) Berikan ASI sesering mungkin (jangan Cuma kalau bayi nangis aja); Berikan ASI lebih sering sewaktu & setelah anak sembuh dari sakit;
5) Berikan ASI sekalipun ibu bekerja di luar rumah atau sakit (jangan pakai alasan ribet, dll, ada tekniknya kok).
Oke, selamat mencoba para ibu, and selamat berjuang para yang peduli dengan kesehatan anak bangsa ini…..
