Sebenarnya judul diatas sudah tidak pas lagi…cause, bla…bla…bla..
Sudah lama tulisan yang pertama berlalu
Momentnya dah lewat
Dan sepertinya dah nggak nyambung lagi….
Tapi karena t‘lah ditulis tulisan pertam, kan mesti ad tulisan kedua…ya, nggak, ya. Wajid kaleee…
So, akhirnya aku nemu juga topik, beberap waktu lalu, waktu cuti. Eh, nggak ditulis-tulis juga. So lewat moment lagi
Sekarang ketika waktu itu ada, kayaknya masih tersimpang uneg-uneg untuk menulis ide yang ketemu waktu cuti itu
Apa yang anda pikirkan jika melihat seorang anak menangis didepan public (seperti didalam angkutan umum, dalam antria di loket pembayaran listrsic, dalam antrian dokter, dll). Mungkin anada akan berpikir anak itu nakal, rewel, sedang sakit, sedang lapar, atau sedang punya keinginan yang tisak dipenuhi oleha orangtuanya. Dan sikap kita, saya tebak, ada yang kesal karena bikin ribut, ada yang prihatin dan mencoba berbasa-basi dengan sang ibu (atau siapapun yang bersam anak itu) menyarankan agar tangisan anak itu dihentikan, atau yang paling ‘bahaya’ bersungut-sungut dan menganggap ibu anak itu tidak bisa/becus mengurus anak.
Ada hal lain, yang justru jadi perhatianku.
Siang yang terik itu, membuat aku memilih duduk diangkot dari komplek kerumahku menuju kota di pojok, dimana aku bisa membuka jendela dan membiarkan udara masuk, sehingga panasnya udara bisa sedikit terbantu. Ternyata udara yang masuk dari luar, tidak membuat suasana angkot itu menjadi lebih nyaman…karena ada “udara lain” yang membuat angkot itu tidak hanya panas, tapi juga membuat mata menatap tanpa berkedip dan kepala hnya bisa menggeleng-geleng.
Seorang anak (perkiraan ku 2 – 3 tahun), perempuan, cukup manis, dengan kepangan dua rambutnya yang berputar-putar lucu, saat tangisnya yang keras dan melengking-lengking menyentahkan nurani kami para perempuan yang ada di angkot itu.
Sang ibu terlihat berusaha mendiamkan anaknnya, dengan membujuk, memberikan makanan, menyebut nama-nama orang yang dia bilang ada diluar, memberikan janji-janji akan memberikan sesuatu jiak mereka sampai dirumah. Lama…tidak ada hasil. Kami memandang sang ibu prihatin, kasihan, pasti capek menghadapi anak kecil yang ‘menggila” begitu.
Tidak makan waktu lama dari rentang kasihan itu, sang ibu mulai melihatkan keperkasaan dan kekuasaannya, untuk mengendalikan anaknya, dengan cara berusaha menahan tubuh mungil yang terus meliuk-liuk, aku sampai terobsesi akan terdengar suara ‘kraakkk” karena tulang mungil gadis kecil itu akhir tunduk ‘apatah’ ditangan ibunya sendiri.
“Diam!!!” aku memutar memori ke masa laluku ketika melihat Pak Tani membajak sawah menggunakan kerbau, maka pak tani tani suka menyuruh kerbau berhenti dengan kata-kata itu.
Kata-kata diam memang lazim dalam bahasa Indonesia utnuk meminta orang lain menghentikan apa yang tengah orang lain lakukan, tapi tidak untuk diucapkan seorang ibu pada anak kecil yang sedang mengamuk dengan intonasi yang “sangat tinggi”, apalagi diucapkan berkali-kali, dengan ekspresi wajah membuat tangis sang anak makin kencang, karena ketakutan akaibat tingginya frekwensi suara itu.
Saya, mengerti sepenuhnya, bahwa sang ibu pasti juga stress juga akibat ulah anaknya, ditambah sorotan beberapa pasang mata yang membuat dirinya merasa disalahkan. Namun apa yang ditampilkan sang anak dan ibu saat itu, dalam analisa sederhana saya, tidak lah hal yang sekonyong-konyong ada sesaat itu saja. Itu adalah implementasi apa yang tentu saja menjadi keseharian mereka.
Yang ingin saya katakan adalah, Jika anak terbiasa dikendalikan dengan kekerasan maka bagaimana pun kita bersandiwara untuk menghamburkan suara lembut dan berwibawa, (apalagi kalau hanya didepan orang lain) tentu tidak akan membuat anak mau mendengar dan mengikuti apa yang dimau orangtua. Puisi Doroty Law yang sangat terkenal cukup mampu menjelaskan ini pada kita semua.
Saya prihatin, dan meninggalkan tempat duduk penuh angin sepoi saya, mencoba menyentuh tubuh mungil itu’
“halo dek, kenapa menangis?” tak kupedulikan tatapan heran orang-orang padaku, mencoba beramah tamah pada halilintar kecil itu.
Dan benar, tidak ada reaksi walaupun kau mencoba berkali-kali. Tidak semudah yang pikir ternyata.
“Dia memang nakal…” Aku pun miris, ketika ibu itu memberi alasan padaku.
Pantaskah anak seumur itu dilabeli anak nakal, kalau mereka menangis.
Menangis adalah bentuk ekspresi dari sesuatu yang menghimpit jiwa, bukankah orang dewasa juga menangis, jika hatinya bermasalah, dan hati bocah itu pasti bermasalah (nggak tau apapun masalahnya).
Kata-kata itu, sering sekali (bahkan sangat sering) aku dengar dari mulut orangtua, jika menghadapi anaknya yang aktif, kreatif, kadang usil pada teman atau saudara. Tidakkah orangtua tahu, bahwa setiap anak akan berkembang kemampuannya sesuai tingkatan umurnya, dan tingkat perkembangan itu juga terimplementasi dalam keseharian anak dengan hal-hal positif maupun negatif sebagai refleksi dari stimulasi yang dia terima dari orang-orang dan lingkungan sekitarnya. Jika setiap fase perkembangan disikapi dengan positif makanya ia akan memnajdi anak yang pintar, cerdas, dll (dalam stigma masyarakat kita), namun jika disikapi negatif yang lahir adalah cap, anak nakal, bandel.
Fase perkembangan diman anak punya rasa ingin tahu yang tinggi akan diterjemahkan sebagai nakal, keinginan anak untuk mencoba hal-hal baru sebagai upaya menjawab pertanyaan otak kecilnya juga diterjemahkan sebagi kenakalan, apalagi kalau eksperimen anak tersebut harus membuat anak lain yang bersamanya menangis, atau rumah jadi berantakan apalagi kalau barang-barang kesayangan orangtua ikut rusak.
Yah, banyak diantara kita yang selalu siap menjadi ibu dan ayah secara biologis dari makluk titipan Allah itu, hal yang membuat orangtua ponatang-panting kerja siang malam mencari uang untuk biaya makan, sekolah, membeli baju bahkan membelikan barang-barang yang sebenarnya belum dibutuhkan anak, namun ‘mungkin ‘ banyak yang lupa mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua yang nantinya harus memenuhi kebutuhan psycologys anak, yang harus siap mengawal anak dalam setiap fase hidupnya, menjawab setiap rasa keingintahuannya, menyikapi setiap kenakalan dan kebandelannya anak-anak kita dengan bijaksana. Sehingga anak kita akan menjadi anak yang tidak mesti dikendalikan dengan suara bak komandan pleton, atau dengan kekuatan tangan penyudo…
Senin, Agustus 18, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
wah-wah...saya sampai sedikit tersentak membaca tulisan kamu ini.
Sungguh suatu tulisan yang sarat dilematis dan menuntut tantangan bagi kita semua untuk sama-sama ikut lebih memperhatikan dengan serius calan generasi penerus bangsa ini.
Tentunya tidak mudah tapi bukan tidak mungkin untuk diupayakan.
saran saya :
Hendaknya orang tua menjadi sahabat bagi sang anak dengan berupaya memahami dengan jeli apa yang menjadi keinginan maupun pemikiran sang anak.
setiap kita punya potensi didalam diri yaitu potensi akal/fikiran dan potensi hati dimana kedua potensi itu merupakan motor penggerak kehidupan makhluk yang dinamakan manusia. lakukanlah upaya-upaya untuk mensinergiskan dan menyeimbangkan kedua potensi tersebut khususnya pada sang ibu terlebih dahulu yang nantinya akan menularkan hal tersebut lagi pada anak-anaknya.
lakukan juga upaya riset tentang tahap perkembangan anak dengan kebutuhan mendasar disetiap tahapan tersebut dan upaya-upaya pemenuhannya.
Dan yang terakhir sekaligus yang utama yaitu rasa sayang hendaknya tidak mengalami pemandulan hanya karena ketidakbijkasanaan kita memahaminya.
Sebagai gambaran sedikit anak tidak mesti dipegangi dan diiringi terus tatkala berjalan karena dengan melepaskan tangan juga merupakan suatu bukti kasih sayang kita karena dengan begitu da upaya pada diri sang anak untuk berusaha sendiri dan ketika terjatuhpun secara tidak langsung ia belajar berupaya untuk bangkit dan berdiri kembali secara sendiri tanpa dibantu oleh ortunya.dan secara tidak langsung merupakan suatu bentuk pengajran pada diri sang anak bahwasanya setiap tindakan memiliki resiko dan hambatan dan sang anak berupaya untuk nantinya agar siap menghadapi itu semua.
rasa sayang yang terakhir inilah yang dinamakan kasih sayang yang sejati dari sang ibu yaitu rasa sayang yang bagaikan surga bagi anak-anaknya.
Posting Komentar