
Ibu Sayang Ibu Malang
Kalau seorang perempuan hamil, atau jika suatu hari anda atau istri anda hamil, tentu sejak awalanda sudah sibuk dengan segala persiapan mulai dari memilih bidan atau dokter (tergantung tebal tipisnya kantong masing-masing) untuk konsultasi, immunisasi, periksa rutin dan tempat melahirkan nantinya.
Hal ini tentu tidak akan berlaku bagi kebanyakan perempuan di pedalaman Papua (paling tidak yang pernah saya temui di Pedalaman Tembaga Pura kabupaten Mimika).
Memang disetiap kawasan pemukiman , biasanya terdiri dari beberapa kampung kecil, telah dibangun sarana klinik atau Puskesmas pembantu oleh PT Freeport dan Pemerintah daerah namun seperti problem di kawasan manapun di daerah terpencil di Indonesia tenaga kesehatan yang akan melayani masyarakat juga tidak ada. Sebenarnya bukan tidak ada. Sebenarnya secara resmi ada tenaga kesehatan yang di SK kan oleh Dinas Kesehatan setempat untuknya bertugas di wilayah-wilayah terpencil tersebut, namun seperti sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka lebih sering berada (bahkan melakukan praktek swasta) di kota.
Kondisi ini tentu saja menyebabkan perempuan hamil, tidak akan bisa mendapatkan pemeriksaan kehamilan rutin dari petugas kesehatan yang terlatih. Jika mereka tidak mendapatkan pemeriksaan kesehatan rutin tentu mereka tidak akan mendapatkan suntikan Tetanus toxoid, padahal ini penting untuk mencegah penyakit tetanus yang dapat membunuh bayi, mereka tidak mendapat Pil tambah darah, padahal ibu hamil rentan menderita anemia apalagi bagi penduduk pedalaman yang jarang mengkomsumsi makanan yang mengandung zat besi seperti ikan dan makanan laut lainnya yang mengandung zat besi tingi. Jika mereka tidak memeriksakan kehamilan secara rutin, tidak akan bisa dipantau perkembangan janin, bagaimana posisi janin dalam rahim, bagaimana tensi darah ibu. Padahal sekali lagi, jika hal-hal seperti ini tidak terpantau dan terkontrol dengan baik bisa membahayakan keselamatan jiwa ibu dan bayi yang dilahirkannya.
Beruntung mereka adalah perempuan-perempuan kuat, tegar dan penuh perjuangan. Bayangkan, dalam usia kandungan yang sudah memasuki tujuh atau delapan bulan, mereka masih mampu berjalan menuruni dan mendaki lereng-lereng perbukitan untuk bekerja di kebun, atau menjunjung bahan makanan babi yang cukup berat pada sore hari. Kehamilan buat mereka bukan lagi menjadi hal yang menakutkan atau hal yang perlu dikwatirkan. Menjalani kehamilan sendiri menjadi hal lumrah buat kebanyakan mereka (banyak diantara perempuan-perepuan tersebut yang ditinggal bekerja oleh suaminya), bahkan hal itu terjadi sampai mereka melahirkan.
Beberapa tahun yang lalu dr.Willy seorang pelatih Kesehatan Reproduksi saya sering menceritakan bahwa perempuan papua kalau melahirkan makan dia dan suaminya akan pergi ke hutan, kemudian suaminya akan menggali lubang dan si istri akan ditinggalkan sendirian, beberapa waktu kemudian suami akan datang lagi melihat kndisi istri. Lalu untuk apa lubang itu, yah untuk mengubur jika saah satu atau kedua nya ibu dan bayi yang dilahirkanl jika mereka tidak selamat dalam prose situ. Dulu aku benar-benar tidak bisa mempercayai cerita itu, kesannya kok primitive dan barbar banget.
Kini ketika saya menginjak langsung negeri asal cerita itu, mungkin saya memang harus belajar mempercayainya. Saya sendiri tidak menemukan kejadian itu, tapi menurut cerita teman-teman saya yang mengunjungi daerah berbeda dengan saya kejadian itu masih ditemukan, walaupun sudah sangat langka.
Yang saya temui adalah hal menarik lainnya, kenyataan bahwa perempuan di pedalaman melakukan self childbirth. Aku mendengar langsung cerita dari pelakuknya. Di rumahnya yang sudah dilengkapi dengan kamar mandi, ia melahirkan bayinya di kamar mandi, setelah memotong sendiri tali pusatnya, ia membawa anaknya ke depan tungku sambal memasak air panas ia memanaskan anak dalam gendongannya. Terakhir ia memandikan anak untuk kemudian ia bersama anaknya istirahat di rumah. Dia melakukan sendiri, catat!!! Sendiri, doing by self. Ada beberap kejadian serupa, tapi beberapa diantaranya ditolng oleh suami, ibu atau saudara perempuannya.
Aku tidak bisa membayangkan, betapa kuatya mereka, bandingkan dengan ibu-ibu kaya yang malas berlelah mengejan melahirkan anak anak dan memilih cara praktis, Caesar.
But it’s true! Nyata, saudara-saudara.
Yah, jangan bicara prosedur standar secara medis, bahwa mesti ditolong minimal oleh bidan, memotong tali pusat dengan gunting yang steril, dll. Dibalik semua itu yang membanggakan mereka bisa melakukan Inisiasi Dini, skin to skin kontak ibu dan anak untuk membantu mempercepat proses menyusu bayi pada ibu,mengalahkan apa yang belum ditemui di klinik bersalin atai rumah sakit yang terkenal sekalipun. Bahkan mereka tidak perlu memberikan makanan pra laktasi berupa susu formula atau makanan lainnya sebelum memebrikan ASI.
Lumayan miris juga sih,apalagi belakangan saya membaca bahwa faktanya: Worldwide, a woman dies every minute due to complications during pregnancy and childbirth - more than 500 000 women per year. In developing countries, pregnancy and childbirth are the second leading causes (after HIV/AIDS) of death among women of reproductive age.
Dan, Five main killers cause more than 70% of maternal deaths worldwide: severe bleeding, infections, unsafe abortion, hypertensive disorders (pre-eclampsia and eclampsia) and obstructed labour. Postpartum bleeding can kill even a healthy woman, if unattended, within two hours. Most of these deaths are preventable.
Bayangkan, jika kejadian yang pernah diceritakan dokter Willy dan saya dengar dari langsung dari pelaku memang masih hal lumrah terjadi bagaimana, angka-angka-nagka diatas dibantah, karena kita masih Negara berkembang kan??? Padahal salah satu tujuan dari MDG5 (millennium Developmen Goals 5) adalah to improve maternal health and reduce maternal mortality by 75% by 2015. Dan laporannya sampai saat ini kondisinya angka penurunan mortality masih sangat lambat (in developing countries has been too slow to achieve the target).

1 komentar:
UNTUK MELIHAT LEBIH JELAS, KLIK www.optikadil.blogspot.com
DENGAN MATA YANG SEHAT DAN JELAS ANDA LEBIH DINAMIS DLM BERKARYA
Posting Komentar